
Jumlah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Provinsi Sulawesi Tengah menunjukan peningkatan signifikan. Berdasarkan data SIPONGI Kementerian Kehutanan, luas Karhutla sampai bulan Agustus 2026 mencapai 3.138,10 Ha atau meningkat lebih dari tiga kali lipat dibanding periode tahun 2025.
Kebakaran seluas 1.125,58 hektar terjadi di wilayah Hutan Produksi yang dapat dikonversi (HPK), di hutan produksi terbatas 382,95 hektare, hutan produksi 215,14 hektare, hutan lindung 48,08 hektare dan hutan konservasi 22,02 hektare.

Berdasarkan kondisi tersebut, program RBP GCF REDD+ Sulawesi Tengah melalui kegiatan Participatory Fire Management bersama Dinas Kehutanan Bidang Pengendalian Karhutla memperkuat Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Brigdal Karhutla), yaitu tim khusus yang bertugas melakukan pencegahan, patroli, dan pemadaman api yang ada di KPH dan Tahura.
Sebanyak 42 orang anggota Polisi Hutan (Polhut) perwakilan dari 13 KPH dan Tahura mendapat pelatihan tentang metode pemadaman api, analisis cuaca, potensi kebakaran hutan beserta pencegahannya. Hadir sebagai narasumber di antaranya dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Balai pengedalian Karhutla (Dalkarhut), dan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Sekretaris Dinas Kehutanan Sulawesi Tengah, Abdul Rahman, menyampaikan Karhutla harus dicegah, karena merupakan ancaman serius terhadap lingkungan, keanekaragaman hayati, kesehatan masyarakat, serta keberlanjutan pembangunan daerah.
“Brigade tidak boleh hanya hadir ketika api sudah membesar. Pencegahan, deteksi dini dan respons cepat harus menjadi bagian utama dari tugas di lapangan,” ujarnya.
Kiki Rizki Amalia Project Officer, menyebut “Karhutla merupakan ancaman tahunan ketika musim kemarau di Sulawesi Tengah, akibat dampak perubahan iklim. Penguatan kapasitas Birgdal di 13 KPH dan Tahura, benjadi bagian dalam mempersiapkan upaya pencegahan dan pengedalian kebakaran hutan saat ini hingga masa yang akan datang,” terangnya.

Selain penguatan Brigdal, Program RBP GCF bersama Dinas Kehutanan juga memfasilitasi peningkatan kapasitas 71 Masyarakat Peduli Api (MPA) di 13 KPH untuk pencegahan kebakaran hutan di tingkat desa. Selain pelatihan, Baik Brigdal Karhutla maupun MPA mendapat peningkatan kapasitas berupa bantuan sarana dan prasarana, antara lain penyediaan sapras untuk mendukung operasional kebakaran hutan dan pembentukan posko Crisis Response Unit (CRU) di empat kabupaten, zona paling rentan yaitu Kabupaten Poso, Kabupaten Banggai, Kabupaten Tojo Una – Una dan Kabupaten Morowali Utara.



