
JAKARTA – Daeng Sore, seorang petani berusia 50 tahun di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, awalnya asing dengan konsep agrosilvopastura yang membuat hasil panennya kembali meningkat. Sistem ini mengintegrasikan pertanian (agro), kehutanan (silvo), dan peternakan (pastura). Itu semua ia dapat dari Sekolah Lapang yang digagas KEMITRAAN dan Sulawesi Community Foundation (SCF) Sejak Maret 2024.
Penurunan hasil panen akibat penggunaan pupuk kimia menjadi masalah bagi sebagian petani di Maros. Merespons hal itu, KEMITRAAN dan SCF memperkenalkan sistem pertanian berkelanjutan berbasis agrosilvopastura yang disampaikan melalui Sekolah Lapang. Tujuannya untuk meningkatkan ketahanan petani dalam menghadapi perubahan iklim, sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan kimia dalam proses budidaya tanaman.
Mulanya KEMITRAAN dan SCF mengidentifikasi peserta dengan kriteria berupa petani yang inovatif, konsisten, serta inklusif sebagai peserta Sekolah Lapang. Dari hasil seleksi, terpilih 20 petani dari Desa Bonto Somba dan 20 petani dari Desa Bonto Manurung yang siap mengikuti program ini.
Dari Maret hingga Juni 2024, kegiatan Sekolah Lapang telah menunjukkan hasil yang signifikan. Tidak hanya mentransfer pengetahuan baru, program ini juga merangkul kearifan lokal dan praktik tradisional, terutama dalam transisi dari penggunaan pupuk kimia ke pupuk organik dalam budidaya jagung komposit. Petani dapat mengoptimalkan penggunaan lahan dengan pendekatan yang ramah lingkungan.
Dalam Sekolah Lapang, para petani tidak hanya mendapatkan pelatihan teknis, tetapi juga diajak untuk menerapkan praktik gotong royong dalam pengelolaan lahan demplot jagung. Tujuan akhirnya adalah menghasilkan benih jagung mandiri yang lebih tahan terhadap perubahan iklim.
Iwan, anak bungsu Daeng Sore yang mengikuti Sekolah Lapang pun mulai beralih ke sistem pertanian berbasis organik. Ia menggunakan kotoran sapi untuk pupuk dan mengembangkan pakan ternak berbasis rumput gajah. Sementara itu, Ina, kakaknya, memanfaatkan tanaman sayur-mayur untuk membuat pestisida nabati yang menjadikan pertanian mereka lebih mandiri dan berkelanjutan.
Lima petani dari Dusun Bara di Desa Bonto Somba juga turut berkontribusi dalam pengolahan Mikro Organisme Lokal (MOL) berbasis gula merah, yang menjadi komponen utama dalam pembuatan pupuk organik. Hal ini menunjukkan kearifan lokal dapat menjadi bagian dari solusi pertanian modern yang ramah lingkungan.
Sekolah Lapang di Kabupaten Maros membuktikan bahwa kombinasi antara pengetahuan modern dan praktik tradisional dapat menciptakan solusi inovatif bagi pertanian berkelanjutan. Dengan sistem agrosilvopastura, para petani tidak hanya mendapatkan manfaat ekonomi, tetapi juga berkontribusi dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Melalui inisiatif ini, KEMITRAAN dan SCF berupaya mengimplementasikan model pertanian yang lebih inklusif, adaptif, dan berbasis komunitas. Sekolah Lapang menjadi bukti bahwa dengan kerja sama dan gotong royong, petani dapat meningkatkan produktivitas lahan sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya alam mereka. Karena pada hakikatnya pertanian masa depan adalah pertanian yang inklusif, mandiri, dan berkelanjutan.