Safeguarding Specialist (Consultant) – PARTISIPASI Program

Post Title:Safeguarding Specialist
Supervisor:Lead Convenor  
Type of Assigment:Consultant
Duration:six(6) months with the possibility of extension based on performance and funding (anticipated project-subject to funding availability)
Base:Head Office with possible travelling to project fields
Coordination:Grant and Administrative Officers, Grant Manager, MEL Hub, Comms Officer, MEL Officer

Project Context

KEMITRAAN is currently anticipating a funding opportunity from DFAT Australia called the PARTISIPASI Program, which focuses on democracy. This program is expected to launch in April 2026 with a budget of AUD 22.2 Million.

PARTISIPASI is an initiative designed as a continuation of the Democratic Resilience Pilot Program, aligned with the development priorities of both Indonesia and Australia. The program aims to strengthen democratic resilience and inclusive participation in Indonesia, with alignment to national development goals and long-term governance strategies.

To achieve these objectives, PARTISIPASI will engage strategic partners and stakeholders at both the national level (Jakarta) and across key subnational areas, including Aceh Province, South Sulawesi Province, and the Special Region of Yogyakarta. Program activities will focus on addressing challenges to democratic participation and enhancing the capacity of local actors to foster accountable, participatory governance.

KEMITRAAN – The Partnership for Governance Reform – with its proven experience in promoting good governance, transparency, and democratic strengthening across Indonesia, will play an active role in supporting PARTISIPASI. Through targeted capacity building, technical assistance, and stakeholder engagement, KEMITRAAN will contribute to achieving the program’s intended outcomes at both policy and community levels.

Under the direction and supervision of the designated supervisor, the Safeguarding Specialist will provide advice, develop standards, and support Core Group and Collaboration Partners to put systems, processes and practices that reflect DFAT standards.

Key Functions and Tasks

Strategic Engagement, Risk Management and Safeguards

  • Ensure that all Core Groups understand and abide by DFAT safeguarding
  • Provide guidelines to Core Groups and CSP on Safeguarding policy expected standards of behaviours, and how to report any suspicions via established internal reporting mechanism.
  • Develop a safeguards plan for the CSP, socialise this plan and provide regular safeguards training for all Component 2 partners
  • Design and deliver training in line with safeguarding shared service materials on awareness raising and other capacity building activities.
  • Collaborate with and provide advice to Core Groups to fulfill safeguarding responsibilities
  • Ensure safeguarding risk assessment are carried out, including risk identification and the identification of tangible mitigation actions.
  • Lead and coordinate with Core Groups for developing the safeguarding report and submit in a timely manner.
  • Identify the needed resources to implement the safeguarding strategy and advocate to Lead Convenor to better prioritize and mainstream safeguarding

Strategic Engagement, Risk Management and Safeguards

  • Develop a safeguards plan for the CSP, socialise this plan and provide regular safeguards training for all Component 2 partners.
  • Ensure safeguarding and protection risk are included in all risk assessments.
  • Work with Core Groups to ensure that all complaint mechanisms properly work and refer cases to the appropriate actors.

Competency

Core competencies

  • Integrity and ethics: model KEMITRAAN values; promote zero tolerance for fraud and corruption.
  • Results orientation: focus on impact and quality; proactively solve problems and meet deadlines.
  • Inclusive collaboration: demonstrate cultural and gender sensitivity; build constructive relationships across functions and with partners.
  • Change agility: adapt to evolving donor and organizational requirements; champion practical improvements in policies and systems.
  • Communication and influence: present complex financial information clearly to non-finance audiences; provide balanced advice and constructive challenge

Technical competencies

  • Deep understanding of safeguarding and safe programming, gender sensitivity, organizational values, policies, and feminist principles.
  • Professional experience in capacity building and supporting (coaching, mentoring, oversight) partners on safeguarding.
  • Demonstrated experience adapting organization-specific safeguarding content including training, policy, awareness raising, and communications tools for use by Core Groups.
  • Experience or strong understanding of survivor–centered case management and investigations of safeguarding incidents.
  • Experience in knowledge management and learning to ensure findings in safeguarding influence practice in real-time.
  • Strong experience developing accountability mechanisms, including community-based complaint mechanisms.

Qualifications

Education

Bachelor's degree in law, social or relevant field

Experience

  • Minimum ten (5) years of progressive experience in safeguarding, child safeguarding, PSEA.
  • Demonstrated experience in both capacity building and technical assistance on Safeguarding.
  • Proven track record managing donor compliance,
  • Hands-on experience improving policies, internal controls, and finance systems/automation.

Languages

Full professional proficiency in English and Bahasa Indonesia (written and spoken) is required

How to Apply

Interested candidates are invited to submit their application, including a CV and cover letter outlining relevant experience, to the button below before April 7, 2026. Only shortlisted applicants will be contacted for further selection processes.

Lamar Sekarang

2016

Pada bulan Maret 2016, KEMITRAAN menerima akreditasi internasional dari Adaptation Fund. Dewan Adaptation Fund, dalam pertemuannya yang ke-27, memutuskan untuk mengakreditasi KEMITRAAN sebagai National Implementing Entity (NIE) dari Adaptation Fund. KEMITRAAN menjadi lembaga pertama dan satu-satunya lembaga Indonesia yang terakreditasi sebagai NIE Adaptation Fund di Indonesia.

2020

Perjanjian ini ditandatangani antara Green Climate Fund (GCF) dan KEMITRAAN. Perjanjian ini meresmikan akuntabilitas KEMITRAAN dalam melaksanakan proyek-proyek yang disetujui oleh GCF.

 

Untuk diketahui, GCF adalah dana khusus terbesar di dunia yang membantu negara-negara berkembang untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan meningkatkan kemampuan mereka dalam merespons perubahan iklim.

 

Dana ini dihimpun oleh Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) pada tahun 2010. GCF memiliki peran penting dalam mewujudkan Perjanjian Paris, yakni mendukung tujuan untuk menjaga kenaikan suhu global rata-rata di bawah 2 derajat celsius.

2000-2003

KEMITRAAN memainkan peran krusial dalam mendukung pengembangan undang-undang untuk membentuk KPK. Hal ini diikuti dengan langkah mendukung Pemerintah dan DPR dalam memilih calon komisioner yang kompeten dan juga mendukung kelompok masyarakat sipil untuk mengawasi secara kritis proses seleksinya. Setelah komisioner ditunjuk, mereka meminta KEMITRAAN untuk membantu mendesain kelembagaan dan rekrutmen awal KPK, serta memainkan peran sebagai koordinator donor. Sangat jelas bahwa KEMITRAAN memainkan peran kunci dalam mendukung KPK untuk mengembangkan kapasitas dan strategi yang diperlukan agar dapat bekerja seefektif mungkin.

2003

Pada tahun 2003, KEMITRAAN menjadi badan hukum yang independen yang terdaftar sebagai Persekutuan Perdata Nirlaba. Pada saat itu, KEMITRAAN masih menjadi program yang dikelola oleh UNDP hingga akhir tahun 2009. Sejak awal tahun 2010, KEMITRAAN mengambil alih tanggung jawab dan akuntabilitas penuh atas program-program dan perkembangannya.

1999-2000

Kemitraan bagi Pembaruan Tata Kelola Pemerintahan, atau KEMITRAAN, didirikan pada tahun 2000 setelah berlangsungnya pemilihan umum pertama di Indonesia yang bebas dan adil pada tahun 1999. Pemilu bersejarah ini merupakan langkah penting dalam upaya Indonesia keluar dari masa lalu yang otoriter menuju masa depan yang demokratis. KEMITRAAN didirikan dari dana perwalian multi-donor dan dikelola oleh United Nations Development Programme (UNDP) dengan mandat untuk memajukan reformasi tata kelola pemerintahan di Indonesia.

2020

Perjanjian ini ditandatangani antara Green Climate Fund (GCF) dan KEMITRAAN. Perjanjian ini meresmikan akuntabilitas KEMITRAAN dalam melaksanakan proyek-proyek yang disetujui oleh GCF.

Untuk diketahui, GCF adalah dana khusus terbesar di dunia yang membantu negara-negara berkembang untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan meningkatkan kemampuan mereka dalam merespons perubahan iklim.

Dana ini dihimpun oleh Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) pada tahun 2010. GCF memiliki peran penting dalam mewujudkan Perjanjian Paris, yakni mendukung tujuan untuk menjaga kenaikan suhu global rata-rata di bawah 2 derajat celsius.

1999-2000

Kemitraan bagi Pembaruan Tata Kelola Pemerintahan, atau KEMITRAAN, didirikan pada tahun 2000 setelah berlangsungnya pemilihan umum pertama di Indonesia yang bebas dan adil pada tahun 1999. Pemilu bersejarah ini merupakan langkah penting dalam upaya Indonesia keluar dari masa lalu yang otoriter menuju masa depan yang demokratis. KEMITRAAN didirikan dari dana perwalian multi-donor dan dikelola oleh United Nations Development Programme (UNDP) dengan mandat untuk memajukan reformasi tata kelola pemerintahan di Indonesia.