Greta Thunberg dan Perempuan Gambut

08 Jan 2020
Sola berdiri di tengah lahan gambut yang terbakar di Pulang Pisau. (BBC News Indonesia)

GRETA THUNBERG, tahun ini dinobatkan sebagai Person of The Year oleh majalah Time. Greta menyita perhatian dunia pasca-pidatonya di COP24 Kotawice, Polandia, tahun 2018, serta upayanya yang konsisten menyuarakan pentingnya mencegah perubahan iklim. Berkat social media, apa yang dilakukan Greta mendunia. Saat media arus utama kurang memberitakan, Greta secara leluasa membagikan upaya-upayanya yang tidak sederhana kepada dunia. Upaya itu dari mulai menggalang anak muda di negaranya untuk turun ke jalan, yang kemudian menginspirasi anak muda di belahan dunia lain untuk melakukan aksi serupa, hingga mengarungi ganasnya lautan menuju konferensi internasional di New York menggunakan kapal laut, demi mengurangi carbon footprint yang dikeluarkan saat dia menggunakan pesawat dan kendaraan lainnya.

Selain Greta, social media di Indonesia juga sempat hangat oleh upaya Awkarin, misalnya, yang terjun langsung ke wilayah kebakaran hutan di Kalimantan. Terlepas dari timbulnya pro dan kontra, banyaknya dukungan yang diberikan kepada Awkarin menunjukkan bahwa sebagian generasi muda memiliki kekhawatiran yang sama akan masa depan Indonesia.

Di balik luasnya kebakaran hutan tahun 2019, terdapat bukti nyata dampak perubahan iklim telah menimpa Indonesia. Salah satunya dengan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif atau lebih dinginnya suhu Samudra Hindia di sebelah barat Sumatera, yang berakibat pada meningkatnya jumlah titik panas dan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) (Kompas, 9/8/2019).

Hingga Desember, terdapat 942.484 hektar hutan dan lahan terbakar di seluruh Indonesia (data SiPongi-KLHK 2019). Kejadian ini jelas semakin mempercepat proses pemanasan global, mengingat banyaknya emisi karbon yang dihasilkan dari karhutla. Kerugian materi ditaksir mencapai Rp. 72,95 triliun (Bank Dunia, 2019). Sebelumnya, di tahun 2015, sekitar 2,6 juta hektar hutan dan lahan di seluruh Indonesia terbakar (SiPongi-KLHK). Ini akibat dari perpaduan antara musim kering yang berkepanjangan dan adanya fenomena El-Nino dan kerugian materiil yang diakibatkan setara dengan Rp. 220 triliun (Bank Dunia, 2016).

Pada sisi lain, peningkatan suhu sebagai dampak dari perubahan iklim semakin di rasa dalam kurun waktu 20 tahun terakhir. Bahkan, peningkatan suhu di Indonesia saat ini sudah lebih tinggi dibandingkan rata-rata global (Kompas, 12/2/2019).

Perempuan Gambut

Gerakan Greta di level dunia, dan apa yang pernah dilakukan oleh Awkarin sedikitnya mewakili dua golongan, anak muda yang cemas melihat generasi sebelumnya terkesan merusak bumi yang akan mereka warisi, dan perempuan sebagai sosok yang paling terdampak perubahan iklim.

Sekitar 2 tahun sebelum Awkarin ke Kalimantan dan ikut memadamkan api di hutan dan lahan, pasca kebakaran hebat di tahun 2015, sebanyak 109 orang, mayoritas anak muda dan perempuan, terjun ke desa gambut yang tersebar di 7 provinsi, menjadi fasilitator program desa peduli gambut (DPG) yang dilaksanakan oleh lembaga Kemitraan dan Badan Restorasi Gambut (BRG). Selain Kalimantan Tengah, mereka ditempatkan di desa-desa yang tersebar di provinsi Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Papua, Jambi, Riau dan Sumatera Selatan.

Indonesia merupakan negara dengan luas lahan gambut terbesar ke empat di dunia, oleh karenanya sudah menjadi kewajiban untuk menjaga ekosistem gambut tetap berada pada sifat alaminya, menyerap, dan menyimpan emisi karbon dengan kapasitas penyimpanan sangat besar, sehingga mampu mengurangi proses pemanasan global akibat efek gas rumah kaca. Sebaliknya, kerusakan lahan gambut akan mengeluarkan banyak emisi dan mempercepat proses perubahan iklim. Analisis World Resources Institute (WRI) menunjukkan bahwa pengeringan satu hektar lahan gambut di wilayah tropis akan mengeluarkan karbon setara dengan membakar lebih dari 6.000 galon bensin setiap tahun.

Pada sisi lain, rusaknya ekosistem gambut berdampak buruk bagi perempuan desa. Para pengrajin purun–tanaman endemik lahan gambut–di sebagian wilayah Kalimantan Tengah dan Selatan, semakin kehilangan bahan membuat anyaman pasca kebakaran hebat di tahun 2015. Akibatnya, perempuan Desa Sungai Namang, Kabupaten Hulu Sungai Utara harus mendatangkan bahan baku purun dari kabupaten, bahkan provinsi lain agar dapat terus membuat anyaman. Pun demikian dengan pengrajin kue talipuk (teratai) yang kian kesulitan mendapatkan tanaman teratai, kendati mayoritas wilayah desa merupakan lahan gambut.

Perempuan di sebagian wilayah desa gambut di Riau berkurang penghasilan akibat dari kelangkaan tanaman pandan untuk membuat tikar, dan serta secara perlahan telah menghilangkan tradisi menyambut kelahiran anak tercinta dengan tikar pandan. Menyebabkan mamak-mamak di kabupaten Merauke dan Mappi, Papua, mengeluarkan tenaga ekstra untuk mencari ikan dan memanen sagu hutan. Kondisi ini dialami oleh perempuan desa gambut, karena faktor terbatasnya keterlibatan pada tahapan penyusunan rencana pembangunan, dari mulai awal perumusan usulan di tingkat dusun, hingga pengambilan keputuan dalam musyawarah desa.

Akibatnya, kebutuhan dan isu-isu yang menjadi perhatian perempuan tidak masuk dalam rencana pembangunan, termasuk kebutuhan akan pentingnya menjaga ekosistem gambut agar tanaman purun, pandan, sagu maupun keberadaan ikan tetap terjaga. Perempuan juga cenderung memiliki akses yang terbatas terhadap ekonomi. Padahal, sebagian perempuan di desa masih menjadi pihak paling bertanggungjawab untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan domestik rumah tangga.

Reorientasi Pembangunan

Untuk itu, dibutuhkan perubahan terhadap tujuan pembangunan, tidak hanya mengalihkan fokus pembangunan dari infrastruktur ke pembangunan sumber daya manusia, tetapi secara spesifik melibatkan perempuan dalam pembangunan, dari level desa hingga negara. Terbukti, pembangunan desa dengan melibatkan keterwakilan perempuan dalam prosesnya cenderung lebih memperhatikan isu seputar gambut.

Di Desa Sungai Namang, dana desa tahun ini tidak hanya digunakan untuk membangun infrastruktur, melainkan juga untuk meningkatkan kapasitas kelompok perempuan pengrajin purun dan kue talipuk, serta memberi bantuan modal usaha melalui badan usaha milik desa (bumdes). Demikian juga di Desa Pulantani, salah satu alokasi dana desa tahun 2020 adalah untuk menanam dan memperluas lahan tanam purun desa. Perwakilan pengrajin purun desa dikirim ke Yogyakarta, untuk belajar agar dapat menambah nilai jual produk kerajinan.

Upaya ini dilakukan agar semakin banyak perempuan-perempuan desa seperti Acil Una, yang lulus sarjana dari hasil menjual kerajinan purun. Di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, fasilitator bersama warga desa berhasil memproduksi pupuk organik dengan bahan sederhana dan murah, tersedia di desa. Namun dampaknya luar biasa, mampu mengurangi biaya operasional petani, yang digunakan untuk membeli pupuk dan kapur untuk menghilangkan pirit atau asam lahan gambut yang tinggi karena pembukaan lahan tanpa bakar.

Pupuk organik yang dikembangkan telah disampaikan oleh Kapolres Sambas, di pavilion Indonesia dalam ajang COP25 di Feria de Madrid, Spanyol awal bulan desember. Kerja-kerja fasilitator desa jauh dari ingar-bingar social media, tidak pula diliput banyak media arus utama. Oleh karenanya, tidak pernah terpikir upaya mereka menjaga gambut akan mendunia sepert Greta, atau mendapat sambutan luar biasa seperti Awkarin. Cita-cita mereka sederhana, menjaga gambut, seperti yang kerap mereka sampaikan, ” Gambut aja aku jaga, apalagi hatimu“.

Penulis: Arif Nurdiansah – Peneliti tata kelola pemerintahan di Kemitraan-Partnership
Editor : Laksono Hari Wiwoho

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Greta Thunberg dan Perempuan Gambut”, https://www.kompas.com/tren/read/2019/12/31/172745265/greta-thunberg-dan-perempuan-gambut?page=1.